Jumat, 15 Mei 2020

LabTalk/3 Di Belakang

Dunia kesehatan tidak seutuhnya glamour. Persis seperti gunung es, yang kelihatan hanya puncaknya. Yang sedikit itu. Pendukung-pendukung di bawahnya? Ha? Siapa?

Banyak, tapi yang akan ku sorot hanya profesiku.

Analis Kesehatan atau Ahli Teknologi Laboratorium Medik

Coba siapa yang tahu tentang kami? Hanya 2; Allah dan sesama tenaga kesehatan.

Datangnya virus COVID-19 menjadi gambaran nyata, tentang betapa tidak tampaknya seorang analis. Bahkan hampir hilang tunjangan atas risiko yang dihadapinya. Singkat saja, jika dokter dan perawat berhadapan dengan manusia/pasiennya maka analis berhadapan langsung dengan penyebabnya penyakitnya.

Ketika banyak bidang memberi promosi sebagai balas jasa tenaga kesehatan, yang dapat hanya dokter dan perawat. Apa ada analis, apa ada tenaga kesehatan yang lain? Tidak ada.

Miris? Biasa aja.

Bukan marah, bukan ingin dihargai, ini hanya gambaran bahwa masyarakat tidak tahu siapa saja yang berhadapan dengan mereka. Kadang aku bingung, saat orang sering check up ke laboratorium, mereka pikir siapa yang mereka temui?

Aku, juga sama dengan semua masyarakat awam. Sebelum kuliah mana aku tahu profesi ini. Tahuku cuma dokter, perawat, bidan. Minat? Enggak. Enggak minat jadi tenaga kesehatan. Ngurusin orang, idih ngapain dah. Capek nggak ada liburnya.

Lalu terdampar di profesi Analis Kesehatan, yang udah capek, sedikit liburnya, seadanya duitnya, dan nggak dikenal pula. HA HA HA

Jiwa muda yang haus pengakuan ini meronta-ronta. Bertanya-tanya, kenapa ihhhh?! KENAPA AKU HARUS DI SINI!

Kata Allah: Nanti kamu akan mensyukurinya Nova, tunggu aja 😊

Dan itu benar, akhirnya aku mensyukurinya. Tidak dikenal itu berkah, bekerja dibelakang layar itu karunia. Sebab pada akhirnya pengakuan itu tidak diperlukan.

Ada bagian dari diri manusia, yang ketika dia tahu dia bermanfaat, dia akan merasa cukup dan bahagia. Begitulah profesi analis kesehatan. Masyarakat tidak tahu kami, tapi kami tahu peranan kami sebesar dan segenting apa.

Izinkan aku berbangga diri dengan contoh, jantung, matahari, dan akar. Peran mereka bukan main-main, tapi tidak sedikit minta pengakuan, tidak sedikit pun ingin tampil di depan.

Manusia tanpa jantung? Tidak hidup. Di mana letak jantung? Di dalam. Bagaimana kerja jantung? 24 jam. Apakah kita rasakan detakannya 24 jam? Tidak. Betapa kita dibuat nyaman. Kebayang nggak mendengar jantung terus berdetak ?

Bumi tanpa matahari? Gelap. Manusia tanpa matahari? Kehidupan bisa nggak berputar. Apa matahari ngambek karena dicaci maki manusia karena panasnya? Enggak, tetap bersinar atas izin Allah. Diabaikan dikutuki disalahkan? Makanan sehari-hari

Tumbuhan tanpa akar? Tumbang, selesai kehidupannya. Apa akar ingin tampil keluar? Enggak. Yang dipuji pohonnya yang kokoh, padahal yang mencengkram kuat akarnya yang dalam.

Dan yang paling besar jasanya, yang paling banyak diabaikan yang tidak terlihat tapi selalu bisa dirasakan kehadirannya, ALLAH.

Jadi bagi kami, Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan, saat ini, pengakuan itu perlu, untuk menjamin tunjangan atas risiko kerja dan keilmuan yang kami miliki. Tapi tampil di depan bukan prioritas. Prioritas kami adalah pasien, mengusahakan seakurat mungkin data atas diri mereka yang bisa kami sajikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Sosial

Total Kunjungan

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA