Pujian sangat melenakan
Aku pernah sangat menyukainya
Terasa begitu sempurna di dalam katanya
Hingga aku tersadar bahwa,
Pujian itu bukan untuk aku
Tapi untuk orang yang ada di dalam benaknya
Dia puji habis-habisan ekspektasinya yang berwujud diriku
Yang dipuji itu bukan aku
Tapi seseorang di dalam kelopak matanya
Yang berdiri mengagumkan hasil rekaan pikirannya
Yang dipuji itu bukan aku, itulah kenapa dia memilih pergi saat tahu kenyataan
Sebab tidak sanggup menahan pikiran yang hancur ditabrak keadaan
Aku mensyukuri dengan sangat untuk mereka yang tetap tinggal
Yang dengan mereka aku hampir tidak pernah dipuji
Yang dengan mereka aku tahu kami saling mengagumi
Itulah kenapa pujian hanya milik Tuhan
Karena bebannya tidak akan sanggup kita emban
_________________
15 Juni 2019
Minggu, 29 Maret 2020
Tersirat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar