Pernah suatu kali seseorang membicarakan karma,
berbisik tepat di telingaku.
Dari nada suaranya, terdengar bahagia.
Sayang aku tidak berani menatap wajahnya.
Cukup suaranya saja sudah membuat tanganku bergetar,
hampir-hampir apa yang sedang ku tulis jadi tak bisa dibaca.
Kalian pikir ini jatuh cinta?
Untungnya bukan.
Kakiku rasanya lemas tak menapak, dan emosiku naik sampai ke ubun-ubun.
Aku yakin betul betapa merah padam wajahku kala itu.
Itulah kenapa aku pilih menunduk atau emosiku akan meluap.
Usai menulis, rasanya aku setengah berlari untuk berkumpul dengan teman yang lain.
Ingin sekali berlari sampai ke rumah saja, tapi aku harus tetap tinggal kan?
Seolah-olah aku tidak terpengaruh.
Seolah-olah hatiku tak runtuh.
Lucu memang, kali itu teori "fake it till i make it" berhasil.
Aku tahu aku memang berdosa padanya
Yang aku tak tahu sebegitu besar kebenciannya
Bahkan hingga lukaku, kesedihanku menjadi perayaan baginya
Kebahagiaan yang harus disampaikan
Tepat di sampingku
Tak peduli tempat dan waktu
Mengenai karma, anggaplah aku menerima.
Tapi bukan sebagai karma, melainkan sebagai "Dosa yang dibayar"
Dan setiap pembayaran bentuknya tidak perlu sama, yang penting rasanya.
Maka saat mengalami sesuatu yang rasanya menyempitkan dada, bersibuklah mengingat setiap perbuatan.
Sebab biasanya, setiap keburukan memang hasil tangan kita sendiri.
Kalau nggak gitu, kapan lagi mau mencari-cari kesalahan sendiri?
Manusia kan hobinya cari-cari kesalahan orang lain.
_________________________
4 November 2018
Sabtu, 28 Maret 2020
Tersirat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar